Kamis, 08 Desember 2011

POTENSI DAN PEMANFAATAN DANAU SINGKARAK

Oleh: ZUHRIATI  DAN ELY ASTUTI PANE  
 MAHASISWA PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN  UNIVERSITAS BENGKULU
I. PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Danau Singkarak adalah sebuah danau yang membentang di dua kabupaten di provinsi Sumatera Barat, Indonesia, yaitu kabupaten Solok dan kabupaten Tanah Datar. Danau ini merupakan hulu Batang Ombilin. Namun sebahagian air danau ini dialirkan melalui terowongan menembus Bukit Barisan ke Batang Anai untuk menggerakkan generator PLTA Singkarak di dekat Lubuk Alung, kabupaten Padang Pariaman.Danau Singkarak berada pada letak geografis koordinat 0, 36 derajat Lintang Selatan (LS) dan 100,3 Bujur Timur (BT) dengan ketinggian 363,5 meter diatas permukaan laut.
Danau Singkarak merupakan danau terbesar kedua di Pulau Sumatera setelah Danau Toba, dengan luas 10 908.2 ha dan kedalaman rata-rata 178.68 m. Danau Singkarak memiliki potensi sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang cukup besar. Potensi sumberdaya alam terdiri dari lingkungan fisik dan biologi (hayati). Lingkungan fisik yang menjadi daya tarik Danau Singkarak adalah pemandangan alamnya yang indah seperti hamparan danau yang luas, perbukitan, pegunungan dan sungai. Lingkungan biologi (hayati) yang menjadi potensi wisata bagi Danau Singkarak adalah adanya biota endemik ikan bilih (Mystacoleucus padangensis). Selain itu Danau Singkarak juga memiliki potensi sumberdaya manusia seperti potensi budaya dari masyarakat setempat.
Potensi-potensi tersebut dapat menjadi objek yang menarik bagi wisatawan apabila dikelola dengan baik. Pemanfaatan wisata Danau Singkarak relatif masih terbatas dan belum dikembangkan secara optimal. Potensi sumberdaya wisata yang dimiliki Danau Singkarak meliputi perairan, ikan, dan pemandangan tersebut diperkirakan cukup tinggi, sehingga Danau Singkarak dapat dikembangkan sebagai suatu alternatif pemanfatan wisata yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi dan potensi sumberdaya Danau Singkarak, tingkat pemanfaatan wisata danau, dan untuk menyusun pemanfaatan wisata yang berkelanjutan sebagai salah satu alternatif pemanfaatan sumberdaya Danau Singkarak.
 Berbagai potensi wisata yang sudah ada di Danau Singkarak pada saat ini adalah: pemandangan alam perbukitan, Tanjung Mutiara, olahraga paralayang, kereta wisata, festival Singkarak dan Danau Kembar, serta event balap sepeda internasional Tour de Singkarak. Akan tetapi pengelolaan dan pemanfaatannya belum optimal, seperti promosi yang sangat kurang sehingga wisatawan tidak/belum memperoleh banyak informasi mengenai kawasan wisata Danau Singkarak.
  
1.2.Tujuan
·         Untuk mengetahui potensi dan manfaat dari danau ini serta masalah yang di hadapi dalam pengembangan nya.

1.3. Rumusan Masalah
·         Pemanfaatan potensi dari danau singkarak itu sendiri?
·         Upaya-upaya untuk menjaga kelestarian ikan bilih yang merupakan ciri khas dari danau singkarak itu?
           
  
II.  POTENSI DAN PEMANFAATAN DANAU SINGKARAK

Danau Singkarak memiliki potensi sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang cukup besar. Potensi sumberdaya alam terdiri dari lingkungan fisik dan biologi (hayati). Lingkungan fisik yang menjadi daya tarik Danau Singkarak adalah pemandangan alamnya yang indah seperti hamparan danau yang luas, perbukitan, pegunungan dan sungai. Lingkungan biologi (hayati) yang menjadi potensi wisata bagi Danau Singkarak adalah adanya biota endemik ikan bilih (Mystacoleucus padangensis). Selain itu Danau Singkarak juga memiliki potensi sumberdaya manusia seperti potensi budaya dari masyarakat setempat. Potensi-potensi tersebut dapat menjadi objek yang menarik bagi wisatawan apabila dikelola dengan baik.
Pemanfaatan wisata Danau Singkarak relatif masih terbatas dan belum dikembangkan secara optimal. Potensi sumberdaya wisata yang dimiliki Danau Singkarak meliputi perairan, ikan, dan pemandangan tersebut diperkirakan cukup tinggi, sehingga Berbagai potensi wisata yang sudah ada di Danau Singkarak pada saat ini adalah: pemandangan alam perbukitan, Tanjung Mutiara, olahraga paralayang, kereta wisata, festival Singkarak dan Danau Kembar, serta event balap sepeda internasional Tour de Singkarak.
Danau Singkarak memiliki potensi plasma nutfah ikan bilih yang cukup besar dan satu-satunya di dunia serta terbatas hidupnya di kawasan itu.  ikan bilih dalam beberapa tahun lalu menjadi primadona ekonomi masyarakat selingkar Danau Singkarak karena telah mengangkat harkat hidup dan ekonomi 1.135 kepala keluarga masyarakat nelayan yang beraktifitas menangkap ikan ini. Ikan bilih (Mystacoleucus padangensis) merupakan spesies ikan yang diperkirakan hanya hidup di danau ini, dan menjadi salah satu makanan khas. Penelitian para ahli mengungkapkan 19 spesies ikan perairan air tawar hidup di habitat Danau Singkarak, Kabupaten Solok dan Tanah Datar, Sumatera Barat (Sumbar), dengan ketersediaan bahan makanannya yang terbatas.
Dari 19 spesies itu, tiga spesies di antaranya memiliki populasi kepadatan tinggi, yakni ikan Bilih/Biko (Mystacoleusus padangensis Blkr), Asang/Nilem (Osteochilus brachmoides) dan Rinuak. Spesies ikan lainnya yang hidup di Danau Singkarak adalah, Turiak/turiq (Cyclocheilichthys de Zwani),Lelan/Nillem (Osteochilis vittatus), Sasau/Barau (Hampala mocrolepidota) dan Gariang/Tor (Tor tambroides). Kemudian, spesies ikan Kapiek (Puntius shwanefeldi) dan Balinka/Belingkah (Puntius Belinka), Baung(Macrones planiceps), Kalang (Clarias batrachus), Jabuih/Buntal (Tetradon mappa), Kalai/Gurami(Osphronemus gurami lac) dan Puyu/Betok (Anabas testudeneus). Selanjutnya, spesies ikan Sapek/Sepat (Trichogaster trichopterus), Tilan (mastacembelus unicolor), Jumpo/Gabus (Chana striatus), Kiuang/Gabus (Chana pleurothalmus) dan Mujaie/Mujair (Tilapia pleurothalmus).
Dengan hanya ada 19 spesies ikan yang hidup di Danau Singkarak menunjukkan keanekaragaman ikan di tempat itu tidak telalu tinggi. Kondisi mesogotrofik Danau Singkarak yang menyebabkan daya dukung habitat ini untuk perkembangan dan pertumbuhan organisme air seperti plankton dan betos, sangat terbatas. Dari beberapa kali penelitian menunjukan populasi plankton dan betos di Danau Singkarak sangat rendah. Padahal komunitas plankton (fitoplankton dan zooplankton) merupakan basis dari terbentuknya suatu mata rantai makanan dan memegang peranan sangat penting dalam suatu ekosistem danau. Kondisi tersebut, menyebabkan sumber nutrisi utama ikan secara alamiah umumnya adalah berbagai jenis plankton dan bentos. Endemik ikan bilih sudah dikenal masyarakat baik nasional maupun dunia yang konon kabarnya species tersebut hanya ada di dua tempat yaitu Berazil dan Danau Singkarak. Namun, secara kualitatif diperoleh gambaran saat ini tingkat pemanfaatan potensi ikan bilih di Singkarak telah mencapai titik kritis ditandai semakin menurunnya hasil tangkapan dan meningkatnya kompleksitas permasalahan berkaitan dengan aspek lingkungan.

Untuk menyikapi per­soalan Danau Singkarak yang sangat memprihatinkan hari ini dengan mulai langkanya endemik ikan bilih, maka perlu rasanya perhatian dari kita bersama, baik ma­sya­rakat sekitar maupun pe­merintah daerah sebagai pengambil kebijakan. Endemik ikan bilih sudah dikenal masyarakat baik nasional maupun dunia yang konon kabarnya species tersebut hanya ada di dua tempat yaitu Berazil dan Danau Singkarak.
Buat warga Sumatera Barat, khusunya, tentu ini menjadi sebuah kebanggaan, bahwa jenis fauna langka tersebut ter­dapat di salah satu di Sumatera Barat.Namun kebanggaan yang kita rasakan itu, justru hari ini menjadi sebuah ke­kha­watiran. Mengapa demikian? Karena kondisi hari ini dari endemik ikan bilih sudah berada diambang kepunahan. Sungguh ini harus menjadi perhatian buat kita bersama, terutama masyarakat sekitar Danau Singkarak. Begitu juga halnya dengan pemerintah daerah.
Tidak bisa dipungkiri, endemik ikan bilih yang hidup selama ini di Danau Singkarak yang sangat kita banggakan tersebut, hanya akan tinggal kenangan manis buat cucu-cucu kita di masa-masa yang akan datang. Mereka hanya akan men­dapatkan cerita-cerita saja nantinya.Hal ini di sebabkan oleh :
Kerusakan karena PLTA
Indikasi mulai punahnya endemik ikan bilih di Danau Singkarak, berawal dari kerusakan ekosistem Danau Singkarak itu sendiri.
Fakta di lapangan sejak masuknya PLTA Singkarak sekitar tahun 1990 mem­bawa banyak perubahan terhadap eko­sis­tem danau tersebut. Pembangunan terowongan yang menembus perut bukit kira-kira sepanjang 18 km menyebabkan dalam kurun waktu pembangunan proyek tersebut segala limbah masuk ke dalam danau (baik tumpahan solar, air semen untuk pengecoran, dan lain-lain) sehingga mengakibatkan danau singkarak mulai ter­cemar oleh limbah proyek tersbut.
Tidak hanya sampai di situ bahkan setelah pem­bangunan proyek terowongan dan Inteck PLTA selesai, maka terjadilah perubahan siklus perputaran air Danau Singkarak, yaitu perubahan arus bawah yang sangat deras dikarenakan penyedotan air dengan kekuatan yang besar dan ditambah pula dengan seringnya penutupan pintu air yang terletak di daerah Ombilin sehingga membuat sampah yang masuk ke danau hanya berputar-putar di dasar Danau Singkarak.
Akibatnya ikan-ikan yang akan bertelur ke tepi danau sudah jauh berkurang dika­renakan sam­pah yang me­ngendap telah mencemari air danau. Ditambah lagi dengan perilaku masyarakat sekitar Danau Singkarak yang tidak bersahabat.
Dalam mela­kukan pe­nang­kapan ikan bilih ma­syarakat sering meng­gunakan bom ikan, sentrum maupun jaring yang uku­rannya rapat sekali. Alat-alat tersebut sangat mudah men­dapatkan ikan sebanyak mungkin, tapi ma­syarakat lupa dengan perilaku mereka tersebut populasi ikan bilih akan bisa menjadi punah. Ini semua tak lain dan tak bukan adalah karena persoalan ekonomi, masya­rakat ingin mendapatkan uang yang seba­nyak-banyaknya tanpa mau peduli dengan keseimbangan lingkungan.
Beberapa inisiatif  yang dilakukan oleh pemerintah untuk tetap berusaha menjaga ke­lestaian endemik ikan bilih adalah sebagai berikut: Pertama, membuka akses mata pencarian masyarakat tentang perkebunan dengan cara membangun jalan lapis dua. Selama ini kebun-kebun masyarakat ditinggalkan karena kurangnya akses jalan yang mengakibatkan peme­nuhan ekonomi masyarakat diarahkan ke danau. Dengan adanya akses jalan ini ma­syarakat hendaknya bisa mengembangkan kembali potensi perkebunan, sehingga tidak terpusat kedanau.
Ke­dua, bekerja sama dengan Dinas Perternakan dan Peri­kanan tentang penggunaan alat tangkap yang diatur oleh perda tanah datar tahun 2005. Ketiga, merencanakan pena­naman dalu-dalu di pinggiran Danau Singkarak sebagai tempat pemijahan ikan blih.Keempat, merencanakan pengelolaan sampah-sampah yang masuk ke danau dengan membentuk badan penge­lolaan sampah (Bank Sam­pah).Kelima, merencanakan pembutan peraturan nagari untuk pengetauran penge­lolaan Sumber Daya Alam khususnya soal Danau Sing­karak.Keenam, menghimpun generasi muda untuk meles­tarikan lingkungan di tepi Danau Singkarak dengan cara membentuk karang taruna dan mensuport mereka agar bergerak di bidang lingkungan hidup.
Selain terdapatnya ikan bilih,Danau Singkarak juga berpotensi sebagai tempat Wisata Mempesona Danau Singkarak, yang berada pada Kabupaten Tanah Datar dan Solok sangat strategis untuk tempat berlibur bagi keluarga tercinta.Sementara hamparan pasir yang landai seperti mengundang Anda untuk bermain dengan riaknya air danau yang terasa dingin menjilat jemari lembut Anda.Benar-benar pesona yang tidak akan terlupakan.Bila Anda layangkan pandangan ke arah jalan raya, terlihat jajaran pohon yang menghijau di sepanjang pinggiran danau.Di samping indah, Danau Singkarak juga cocok digunakan sebagai tempat olahraga (sport tourism) seperti di darat bisa untuk jalan santai, jogging, senam.
Di danau untuk olahraga berenang, fishing, dayung dan olahraga udara seperti paragliding, terjun bebas, parasailing, paralayang yang melayang di udara bebas dengan pemandangan yang indah.Selain pemandangan yang indah, Danau Singkarak juga memiliki keistimewaan yang lebih dibandingkan danau lainnya di dunia.Berbagai jenis ikan hidup pada danau air tawar itu.Setidaknya saat ini ada 19 jenis ikan-ikan seperti ikan asang, piyek, balingka, baung, dan ikan Sasau, yang konon dapat mencapai ukuran berat hingga 8 kg. Juga ada spesies ikan langka yang mungkin hanya satu-satunya di dunia. Spesies ini bernama ikan bilih (Mystacoleucus Padangensis).
Ikan bilih hanya ada satu-satunya di Danau Singkarak. Ikan yang terkenal gurih ini akan menjadi oleh-oleh tidak terlupakan. Bagi warga sekitar, ikan ini menjadi sumber mata pencarian.
Namun karena ikannya makin langka, harganya pun lumayan bervariasi. Para nelayan di Danau Singkarak, ikan itu dijual dengan harga Rp15.000/kilogram. Akan tetapi, kalau sudah masuk ke pasar, harganya meningkat menjadi Rp50.000/kilogram.Bila sudah lelah ber
main dengan air danau dan lapar pun datang, Anda tidak akan kesulitan mencari makan-makan khas danau Singkarak, baik itu “Pangek Sasau” yang terkenal enak, maupun goreng bilih yang tersedia di warung-warung makan di sekitar Danau Singkarak.Tetapi bila Anda membawa bekal dari rumah, tinggal membentangkan tikar dan menikmati makanan tentu akan terasa lebih nikmat, makan di pinggir danau berair jernih ditemani ikan-ikan bilih yang berenang sesuka hati serta riak-riak kecil air.
Bagi Anda yang membawa anak-anak untuk berwisata ke Danau Singkarak disarankan tidak berhenti di sepanjang jalan di pinggir danau, tetapi mengunjugi objek wisata Tanjung Mutiara yang terdapat di Batu Taba Kecamatan Batipuh Selatan.Tanpa mengurangi keindahan alam yang mempesona Anda dan keluarga dapat bermain air dengan tenang dan nyaman.Sementara yang suka olahraga sepeda, dapat mengelilingi Danau Singkarak sambil menikmati keindahan pemandangan yang begitu mempesona, hamparan sawah, nyiur melambai, nelayan dan kesibukan nelayan mencari ikan dapat Anda saksikan di sepanjang jalan yang melingkari danau tersebut.
Untuk mencapai danau seluas 129.70 Km2 ini sangatlah mudah, baik dengan mengunakan angkutan umum maupun pribadi. Dari Bandara Internasional Minangkabau hanya ditempuh dengan waktu dua jam perjalanan dan tarif angkutan sebesar Rp35 ribu. Harga yang cukup murah untuk suatu keindahan tiada tara persembahan wisata alam Tanah Datar.

III. KESIMPULAN 

Lingkungan biologi (hayati) yang menjadi potensi wisata bagi Danau Singkarak adalah adanya biota endemik ikan bilih (Mystacoleucus padangensis). Selain itu Danau Singkarak juga memiliki potensi sumberdaya manusia seperti potensi budaya dari masyarakat setempat. Potensi-potensi tersebut dapat menjadi objek yang menarik bagi wisatawan apabila dikelola dengan baik. Pemanfaatan wisata Danau Singkarak relatif masih terbatas dan belum dikembangkan secara optimal.
Potensi sumberdaya wisata yang dimiliki Danau Singkarak meliputi perairan, ikan, dan pemandangan tersebut diperkirakan cukup tinggi, sehingga Berbagai potensi wisata yang sudah ada di Danau Singkarak pada saat ini adalah: pemandangan alam perbukitan, Tanjung Mutiara, olahraga paralayang, kereta wisata, festival Singkarak dan Danau Kembar, serta event balap sepeda internasional Tour de Singkarak. Danau Singkarak memiliki potensi plasma nutfah ikan bilih yang cukup besar dan satu-satunya di dunia serta terbatas hidupnya di kawasan itu.
Beberapa  inisiatif  yang dilakukan oleh pemerintah untuk tetap berusaha menjaga ke­lestaian endemik ikan bilih adalah sebagai berikut:Pertama, membuka akses mata pencarian masyarakat tentang perkebunan dengan cara membangun jalan lapis dua. Selama ini kebun-kebun masyarakat ditinggalkan karena kurangnya akses jalan yang mengakibatkan peme­nuhan ekonomi masyarakat diarahkan ke danau.Dengan adanya akses jalan ini ma­syarakat hendaknya bisa mengembangkan kembali potensi perkebunan, sehingga tidak terpusat kedanau.
Ke­dua, bekerja sama dengan Dinas Perternakan dan Peri­kanan tentang penggunaan alat tangkap yang diatur oleh perda tanah datar tahun 2005. Ketiga, merencanakan pena­naman dalu-dalu di pinggiran Danau Singkarak sebagai tempat pemijahan ikan blih. Keempat,merencanakan pengelolaan sampah-sampah yang masuk ke danau dengan membentuk badan penge­lolaan sampah (Bank Sam­pah). Kelima, merencanakan pembutan peraturan nagari untuk pengetauran penge­lolaan Sumber Daya Alam khususnya soal Danau Sing­karak. Keenam, menghimpun generasi muda untuk meles­tarikan lingkungan di tepi Danau Singkarak dengan cara membentuk karang taruna dan mensuport mereka agar bergerak di bidang lingkungan hidup.


DAFTAR PUSTAKA








0 komentar:

Posting Komentar